Secara geografis Desa Selopuro terletak pada posisi 7°21'-7°31' Lintang Selatan dan 110°10'-111°40' 1
Desa Selopuro salah satu dari 10 desa yang ada di Kecamatan Pitu yang terletak kurang lebih 14 km kearah Timur dari Kecamatan Pitu. Desa Selopuro mempunyai wilayah seluas : 424.763 ha dengan jumlah penduduk : 5.216 Jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga : 1.546 dengan batas – batas wilayah sebagai berikut :
|
Sebelah Utara |
Desa Megeri Kecamatan Kradenan kabupaten Blora |
|
Sebelah Timur |
Desa Ngawi Purba |
|
Sebelah Selatan |
Kelurahan Karangtengah kota dan kelurahan Pelem |
|
Sebelah Barat |
Desa Dumplengan |
Luas Wilayah Desa Selopuro adalah 424.763 Ha. Luas lahan yang ada terbagi ke dalam beberapa peruntukan, yang dapat dikelompokkan seperti untuk fasilitas umum, pemukiman, pertanian, perkebunan, kegiatan ekonomi dan lain-lain.
Luas lahan yang diperuntukkan untuk pemukiman adalah 97.486 Ha. Luas lahan yang diperuntukkan untuk Pertanian adalah 54.867 Ha. Luas lahan untuk ladang tegalan dan perkebunan adalah 12.350 Ha. Luas lahan untuk Hutan Produksi adalah 122,500 Ha. Sedangkan luas lahan untuk fasilitas umum adalah sebagai berikut: untuk perkantoran 0,032 Ha, sekolah 0.315 Ha, olahraga 1,125 Ha, dan tempat pemakaman umum 6,534 Ha.
Wilayah Desa Selopuro secara umum mempunyai ciri geologis berupa lahan tanah kapur yang sangat cocok sebagai hutan produksi dan perkebunan. Secara prosentase kesuburan tanah Desa Selopuro terpetakan sebagai berikut: sangat subur 27 Ha, subur 250 Ha, sedang 150 Ha, tidak subur/ kritis 12.350 Ha.
. Untuk tanaman perkebunan, jenis tanaman tebu merupakan tanaman handalan. Kondisi alam yang demikian ini telah mengantarkan sektor pertanian secara umum menjadi penyumbang Produk Domestik Desa Bruto (PDDB.Jenis tanah hitam Desa Selopuro ini menjadi kurang bagus sebagai lahan pemukiman dan jalan, karena cenderung labil. Karenanya, masyarakat Desa Selopuro masih menyukai rumah dari papan kayu daripada tembok bangunan. Sebab bangunan tembok, kalau pondasinya tidak maksimal kuat akan beresiko pecah dan bisa membahayakan jiwa penduduk. Dari 2.327 buah rumah yang ada, hanya sekitar 1.514 buah rumah saja yang terbuat dari tembok, sementara lainnya dari papan kayu dan bambu.
Sedangkan keberadaan testur tanah hitam yang lembek dan bergerak juga mengakibatkan jalan-jalan cepat rusak. Karenannya, pilihan teknologi untuk membangun jalan dari bahan-bahan yang relatif bertahan lama menjadi pilihan utama.